PEMANFAATAN AMPAS SARI KACANG HIJAU SEBAGAI SUMBER SERAT PADA PEMBUATAN BROWNIES BERBAHAN DASAR TEPUNG MOCAF

ABSTRACT
This study aims to utilize the dregs of mung bean extract as a source of fiber in the production brownies with mocaf flour-based products. In the preliminary research was conducted testing of moisture, protein, and fiber in the dregs of mung bean extract, with the results respectively 80,1%, 5,25% and 1,06%. In the main study was done brownies formulation with factor I: mocaf comparison with wheat flour, consisting of 3 levels: 3:1, 1:1and 1:0. Factor II is the number of dregs of mung bean extract added (per 100 grams of flour), there are two levels: 50% and 100%. The experimental design used in this study is the Completely Randomized Design with two factors of treatments, totally obtained 6 cookies.The most preferred formulation was formula A (comparison mocaf and flour 3:1, and the dregs of mung bean extract 50%) both in aroma, texture, and taste. The average of aroma score ranged from 3,7 to 5,9 (neutral untill like). The average score of brownies textureranged from 3,4 to 5,3 (neutral to slightly prefer). The mean value of preference for the tasteof products ranging from 3,7 to 5,4 (neutral to slightly prefer). The nutrients contained in the brownies are produced very high. In 100 grams of material contained approximately 504 kcal calories, carbohydrates 47,69 grams, 10,39 grams protein, 27,55 grams of fat and 3,66grams of fiber slightly, so it can be claimed as a source of dietary fiber.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ampas sari kacang hijau sebagai sumber serat pada produk browniesberbahan dasar tepung mocaf. Pada penelitian pendahuluan dilakukan pengujian kadar air, protein, dan serat pada ampas sari kacang hijau, dengan hasil berturut-turut 80,1%, 5,25% dan 1,06%. Pada penelitian utama dilakukan formulasi brownies dengan faktor A berupa perbandingan tepung mocaf dengan terigu, terdiri atas 3 taraf: 3:1, 1:1, dan 1:0. Faktor II adalah jumlah ampas sari kacang hijau (per 100 gram tepung) sebanyak 2 taraf: 50% dan 100%. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah RAL (rancangan acak lengkap) faktorial sehingga diperoleh 6 formula cookies. Formulasi brownies yang paling disukai adalah formula A (perbandingan mocaf dan tepung terigu 3:1, dan ampas sari kacang hijau 50%) baik secara aroma, tekstur, dan rasa. Skor rata-rata aroma brownies berkisar antara 3,7–5,9 (berada pada penilaian aroma netral sampai suka). Skor rata-rata mutu tekstur brownies berkisar antara 3,4 – 5,3 (berada pada penilaian aroma netral sampai agak suka). Rataan nilai kesukaan terhadap rasa produk berkisar antara 3,7-5,4 (berada pada penilaian netral sampai agak suka). Kandungan gizi yang terdapat pada brownies yang dihasilkan sangat tinggi. Dalam 100 gram bahan terkandung kalori sekitar 504 kkal, karbohidrat 47,69 gram, protein 10,39 gram, lemak 27,55 gram, dan serat 3,66 gram sehingga dapat diklaim sebagai pangan sumber serat.

Published
Categorized as Repository

HUBUNGAN ASUPAN MULTIVITAMIN DAN SINDROM PRAMENSTRUASI PADA MAHASISWI GIZI FKM UI

ABSTRACT
Premenstrual syndrome could be annoyed and decreased productivity and it’s
experienced by 90% students of Nutrition Department of University of Indonesia. Design
study in this research used cross sectional with sampling technique used was the census, so
the respondents of this study were all female students enrolled in the course nutrition of force
from 2011 to 2013. It can be seen that most of the FKM UI student Nutritional deficiency of
micronutrients, while the test results the relationship between nutrient intake with
premenstrual syndrome revealed some nutrient intake had significant results with
premenstrual syndrome, namely, Vitamin A (p = 0,014), Vitamin B1 (p = 0,000), Vitamin
B2 (p = 0,002), Vitamin B6 (p = 0,000). As for the nutrient intake of the most dominant
influence of premenstrual syndrome was Vitamin B1, a student who had a sufficient intake
of Vitamin B1 has a 61,80 times lower risk of experienced premenstrual syndrome compared
with students who were deficient.

ABSTRAK
Sindrom pramenstruasi (PMS) dapat sangat mengganggu aktivitas serta
produktivitas harian dan diketahui terjadi pada 90% Mahasiswi Gizi FKM UI.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan berbagai vitamin
dengan kejadian PMS pada Mahasisiwi Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Indonesia. Desain studi dalam penelitian ini adalah cross sectional dan
teknik sampling yang digunakan adalah sensus, sehingga responden dari penelitian
ini adalah seluruh mahasiswi yang terdaftar di program studi gizi dari angkatan
2011–2013. Dari penelitian ini, dapat dilihat bahwa sebagian besar Mahasiswi Gizi
FKM UI mengalami defisiensi zat gizi mikro, sedangkan hasil uji hubungan antara
asupan zat gizi dengan sindrom pramenstruasi menyatakan beberapa asupan zat
gizi memiliki hasil yang signifikan dengan PMS yaitu Vitamin A (p = 0,014), Vitamin
B1 (p = 0,000), Vitamin B2 (p = 0,002), dan Vitamin B6 (p = 0,000). Zat gizi yang paling
dominan berhubungan dengan PMS adalah Vitamin B1, mahasiswi yang memiliki
asupan Vitamin B1 yang cukup memiliki risiko 61,80 kali lebih kecil mengalami PMS
dibandingkan dengan mahasiswi yang mengalami defisiensi.

Published
Categorized as Repository

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera) VARIETAS NUSA TENGGARA TIMUR TERHADAP KADAR ALBUMIN DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus Strain Wistar) YANG DIBERI DIET NON PROTEIN

ABSTRACT
Protein Energy Malnutrition (PEM) is a major factor of infant mortality under
five years old in the tropics and subtropics. PEM is caused by a lack of food sources
of energy and protein. In PEM conditions, serum albumin concentration decreased,
disrupted plasma oncotik pressure that can cause edema. Moringa leaves contain
high protein that have therapeutic supplements potential for PEM children. The
purpose of this study is to determine the effect of Nusa Tenggara Timur (NTT)
varieties of moringa leaf powder on serum albumin in white rats fed non-protein
diet. The study design used was the Post Test Only Control Group. Research
conducted over 93 days using six groups: K (-) (normal diet), K (+) (non-protein diet,
followed by normal diet), P1, P2, P3, and P4 (non protein diet, followed by normal
diet + moringa leaf powder 180 mg, 360 mg, 720 mg, 1440 mg). The variables
measured were serum albumin levels using enzymatic colorimetry methods. Data
analysis using Oneway ANOVA followed by Post Hoc Duncan. Moringa oleifera
Leaf Powder Varieties of Nusa Tenggara Timur supplementation per oral can
increase albumin level of White Male Rats (Rattus Norvegicus Strain Wistar) with
Non-Protein Diet. Normal value of albumin obtained from K group (not conditioned
PEM and still receive normal diet) are 3,30±0,08 mg/dl. The albumin value K (+)
group (conditioned PEM then receive normal diet without moringa leaf powder
supplementation) is the lowest, amounting 2,75±0,30 mg/dl. Results showed the
supplementation of NTT varieties of moringa leaf powder per oral at 720 mg (P3) on
the normal diet gives the best effect for rat serum albumin levels (3,25±0,17 mg/dl)
approaching non-PEM groups of rats/ negative control (3,30±0,08 mg/dl).
Suggestion for future research is the use of the sonde for animal for the consumed
dose can be determined accurately.

ABSTRAK
Kurang Energi Protein (KEP) merupakan salah satu bentuk malnutrisi yang
merupakan faktor utama (60%) penyebab kematian bayi di bawah lima tahun
(balita) di daerah tropis dan subtropis. KEP disebabkan oleh kekurangan makanan
sumber energi dan protein. Pada kondisi KEP konsentrasi albumin darah berkurang
dan tekanan onkotik dalam plasma terganggu sehingga dapat menyebabkan edema.
Daun kelor memiliki kandungan protein tinggi yang memiliki potensi terapi
suplementasi untuk anak-anak KEP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh pemberian tepung daun kelor varietas Nusa Tenggara Timur terhadap
kadar albumin darah tikus putih yang diberi diet non protein. Desain penelitian
yang digunakan adalah Post Test Only Control Group. Penelitian dilakukan selama
93 hari dengan menggunakan 6 kelompok, yaitu K(-) (diet normal), K(+) (diet non
protein dilanjutkan diet normal), P1, P2, P3, dan P4 (diet non protein dilanjutkan
diet normal + tepung daun kelor 180 mg, 360 mg, 720 mg, 1440 mg). Variabel yang
diukur adalah kadar albumin darah dengan menggunakan metode enzimatik
colorimetri. Analisis data menggunakan Oneway ANOVA dilanjutkan dengan Post
Hoc Duncan. Pemberian suplementasi tepung daun kelor per oral (Moringa oleifera)
varietas Nusa Tenggara Timur dapat meningkatkan kadar albumin darah tikus
Rattus novergicus strain wistar yang diberi diet non protein. Nilai albumin darah
normal diperoleh dari kelompok K(-) (tidak dikondisikan KEP dan tetap menerima
diet normal) sebesar 3,30±0,08 mg/dl. Nilai albumin darah kelompok K(+)
(dikondisikan KEP lalu menerima diet normal tanpa penambahan tepung daun
kelor) adalah yang paling rendah, yaitu sebesar 2,75±0,30 mg/dl. Hasil penelitian
menunjukkan penambahan tepung daun kelor varietas NTT per oral sebesar 720 mg
(P3) pada diet normal tikus yang KEP memberikan pengaruh terbaik bagi kadar
albumin darah tikus (3,25±0,17 mg/dl) sebab mendekati kadar albumin darah
kelompok tikus non KEP/ kontrol negatif (3,30±0,08 mg/dl). Saran untuk penelitian
ke depan adalah penggunaan sonde agar dosis kelor yang diasup dapat diketahui
secara akurat.

Published
Categorized as Repository

HUBUNGAN PENGELUARAN, SKOR POLA PANGAN HARAPAN (PPH) KELUARGA, DAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI-PROTEIN DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 2-5 TAHUN

ABSTRACT
Nutritional problem was a complex problem that could be viewed from a variety of
factors directly and indirectly causes the problem of malnutrition is described in the frame of
UNICEF (1998). The objective of study was to determine the relationship of food
expenditure, score of Food Pattern Expectancy (PPH), and the level of energy protein
consumption and nutritional status of children aged 2-5/year. This research used cross
sectional study. Percentages on income level was greater than or equal to
Rp1.236.991,00/month amounted to 92,1% and 7,9% with income of less than Rp
1,236,991/month. Based on index of W/A, 85,5% of respondents had a good nutritional
status, poor nutritional status of 3,9%, moderate status of 9,2%, and 1,3% overweight.
Children under 5 years old had normal height more than stunting. Most of the respondents
12 Volume 1, Nomor 1, Januari─Juni 2016
had less energy intake (53,9%), 36,8% had more protein intake, protein intake adequate of
28,9%, and protein intake was less by 34,2%. Most of the respondents (93,4%) had a good
socio-economic level. The family that had ideally food pattern expectancy were 2,6% and
97,4% not ideal which is the ideal PPH score> 100%. There was no relationship between age,
sex, number of family members, father’s education, father’s occupation, mother’s occupation,
energy intake, and protein intake with nutritional status (W/A). There was no correlation
between the total score of PPH, socioeconomic, and nutritional status (H/A). The statistical
test found that there was a relationship between maternal education and family income with
infant nutritional status (W/A).

ABSTRAK
Masalah gizi merupakan masalah kompleks yang dapat dilihat dari berbagai
faktor penyebab langsung dan tidak langsung terjadinya masalah gizi kurang yang
digambarkan dalam kerangka pikir UNICEF (1998). Penelitian ini merupakan
penelitian Cross Sectional. Persentase terbesar ada pada tingkat pendapatan lebih
atau sama dengan Rp1.236.991,00/bulan sebesar 92,1% dan sebesar 7,9% dengan
tingkat pendapatan kurang dari Rp1.236.991,00/bulan. Berdasarkan indeks BB/U,
sebesar 85,5% responden mempunyai status gizi baik, status gizi buruk sebesar 3,9%,
status gizi kurang sebesar 9,2%, dan status gizi lebih sebesar 1,3%. Berdasarkan
indeks TB/U, balita yang mempunyai tinggi badan normal lebih banyak
dibandingkan yang tidak normal (72,4%), sangat pendek (13,2%), pendek (11,8%),
dan tinggi (2,6%). Sebagian besar responden mempunyai asupan energi yang kurang
(53,9%). Sebesar 36,8% mempunyai asupan protein lebih, asupan protein baik
sebesar 28,9%, dan asupan protein kurang sebesar 34,2%. Sebagian besar (93,4%)
responden hidup dalam keluarga dengan tingkat sosial ekonomi mampu. Hampir
seluruh (97,4%) responden memiliki skor pola pangan harapan tidak ideal. Umur,
jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, pekerjaan
ibu, asupan energi, dan asupan protein tidak berhubungan dengan status gizi balita
(BB/U). Tidak ada hubungan antara total sosial ekonomi dan skor PPH dengan
status gizi balita (TB/U). Pendidikan ibu dan pendapatan keluarga berhubungan
dengan status gizi balita (BB/U).

Published
Categorized as Repository

PENGUATAN SISTEM PELAYANAN KESEHATAN LANJUT USIA

Kegiatan ini hendak mengupayakan permasalahan yang ada pada mitra, dalam rangka mengembangkan
sistem informasi pelayanan kesehatan dasar guna mendukung surveilans kesehatan lanjut usia berbasis
masyarakat. Mitra dalam program ini adalah Panti Sasana Tresna Werdha Karya Bakti RIA
Pembanguna, Cibubur, Jakarta Timur. Permasalahan kelompok mitra adalah: (1) Penanganan dan
pelayanan kesehatan lansia lambat dan konvensional; (2) Belum tersedianya sistem informasi pelayanan
kesehatan lansia; (3) Belum ada standarisasi tarif dan mekanisme pembayaran bagi penghuni lansia; (4)
Kualitas dan responsibililty tenaga kesehatan pemberi layanan PSTW rendah dan terbatas. Solusi program
ini adalah: (1) Memberikan pelatihan senam kesehatan lansia dan penyuluhan kesehatan lansia; (2)
memberikan pelatihan manajemen bagi sumber daya manusia, yaitu: pendamping lansia (care giver),
pekerja sosial, staf administrasi; (3) memberikan pelatihan kreatifitas pada anggota lansia PSTW Karya
Bakti RIA Pembangunan; (3) melakukan program pendampingan (care giver) bagi lansia baik dalam
memberikan pelayanan kesehatan maupun berkomunikasi interpersonal yang baik. Target program
adalah: (1) memberikan pelatihan dan pembimbingan masalah pengelolaan sistem pelayanan kesehatan
lansia serta implementasinya agar dapat diberikan kepada penghuni pada Panti Lansia Sasana Tresna
Werdha RIA Pembangunan, Cibubur, Jakarta Timur; (2) mitra sasaran khususnya stakeholder, pekerja
sosial dan caregiver lansia PSTW RIA Pembangunan memiliki pengetahuan dan keahlian dalam melayani
penghuni; (3) peningkatan pengelolaan system pelayanan kesehatan lansia sehingga mutu layanan kepada
lansia dapat ditingkatkan.

Published
Categorized as Repository

The Role Of Shareholders And Good Corporate Governance In Sharia Banks

The variables used in this research are the role of audit committee and
internal audit as the dependent variables and the implementation of
good corporate governance as the independent variable. This research
employs a purposive sampling to determine the samples based on certain
criteria and 3 (three) Sharia banks are obtained since they have met the
pre-determined criteria. The primary data are obtained through
questionnaires distributed to 43 employees of Audit Committee,
Internal Auditor, and GCG as the respondents. This research employs a
Multiple Linear Regression Analysis as its technical analysis. The results
of this research show that the role of audit committee positively and
significantly influences the implementation of good corporate
governance.

Published
Categorized as Repository

Untitled

Author : Sri Rahayu, Leni Abstrak: Download disini !  

Published
Categorized as Repository

Untitled

Author : Sofyaningsih, Mira Abstrak: Download disini !  

Published
Categorized as Repository

Untitled

Author : Abstrak: Download disini !  

Published
Categorized as Repository

Untitled

Author : Abstrak: Download disini !  

Published
Categorized as Repository