Kemampuan naratif merupakan ketrampilan yang berkaitan dengan bahasa ekspresi (expressivelanguage), termasuk bagaimana menggambarkan atau menceritakan berbagai hal, dan termasukmenceritakan kembali (retelling) kisah atau cerita yang sudah didengarkan (storytelling).Dalam kegiatan pembelajaran di Madrasah Muhammadiyah Bandar Lampung, guru menjadikomunikator yang harus memiliki kemampuan ini. Pesan-pesan yang disampaikan baik berupapengetahuan, nilai-nilai, dan nasehat akan mampu diterima dan dipahami dengan baik oleh siswaapabila ditunjang ketrampilan ini. Metode yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian meliputiobservasi partisipatoris, dimana tim melakukan pengamatan terhadap kegiatan-kegiatan yangdilakukan oleh mitra, selanjutnya dilakukan diskusi dan wawancara dengan kepala madrasah danguru, dilanjutkan dengan pemaparan materi, feedback, diskusi, sharing pengalaman diikuti denganpraktek, dan terakhir membahas rencana tindak lanjut. Hasil dari kegiatan dapat diidentifikasibahwa menurut para peserta, penguatan guru melalui kegiatan ini dapat dilakukan secara periodikdan berkelanjutan, selain itu guru menjadi termotivasi untuk meningkatkan ketrampilan naratif,termasuk disini adalah peningkatan kemampuan berkomunikasi secara lebih efektif, tepatsasaran, dan berbobot, baik dengan mitra sejawat, orang tua siswa, dan siswa. Selanjutnya paraguru terdorong untuk meningkatkan kemampuannya melalui berbagai perangkat yang dapatmereka akses, misal dengan mengakses internet melalui berbagai media social dan media lainyang terjangkau oleh mereka.
Tag: jakarta
Peningkatan Keterampilan Naratif (Narrative Skills) dalam Berkomunikasi bagi Guru Madrasah Muhammadiyah Kota Bandar Lampung
Kemampuan naratif merupakan ketrampilan yang berkaitan dengan bahasa ekspresi (expressivelanguage), termasuk bagaimana menggambarkan atau menceritakan berbagai hal, dan termasukmenceritakan kembali (retelling) kisah atau cerita yang sudah didengarkan (storytelling).Dalam kegiatan pembelajaran di Madrasah Muhammadiyah Bandar Lampung, guru menjadikomunikator yang harus memiliki kemampuan ini. Pesan-pesan yang disampaikan baik berupapengetahuan, nilai-nilai, dan nasehat akan mampu diterima dan dipahami dengan baik oleh siswaapabila ditunjang ketrampilan ini. Metode yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian meliputiobservasi partisipatoris, dimana tim melakukan pengamatan terhadap kegiatan-kegiatan yangdilakukan oleh mitra, selanjutnya dilakukan diskusi dan wawancara dengan kepala madrasah danguru, dilanjutkan dengan pemaparan materi, feedback, diskusi, sharing pengalaman diikuti denganpraktek, dan terakhir membahas rencana tindak lanjut. Hasil dari kegiatan dapat diidentifikasibahwa menurut para peserta, penguatan guru melalui kegiatan ini dapat dilakukan secara periodikdan berkelanjutan, selain itu guru menjadi termotivasi untuk meningkatkan ketrampilan naratif,termasuk disini adalah peningkatan kemampuan berkomunikasi secara lebih efektif, tepatsasaran, dan berbobot, baik dengan mitra sejawat, orang tua siswa, dan siswa. Selanjutnya paraguru terdorong untuk meningkatkan kemampuannya melalui berbagai perangkat yang dapatmereka akses, misal dengan mengakses internet melalui berbagai media social dan media lainyang terjangkau oleh mereka.
Effect of Lecithin’s Concentration of Entrapment Vitamin E Acetate Liposomes Using Thin Layers Hydration Method
Tocopheryl acetate is not oxidized and can penetrate through the skin to the living cells, where about 5% is
converted to free tocopherol and provides beneficial antioxidant effects. Lecithin is one of the main components
of liposomes vesicles forming. The higher the phospholipid used, the more vesicles are formed, so that drug
use is also expected to be optimal. This study aims to determine the effect of increased lecithin concentration
on the efficiency of vitamin E application in liposomes made by thin layer hydration method. In this study
3 formulas were prepared using cholesterol and lecithin with a ratio of 20 mg each:100 mg (F I), 20 mg:400 mg
(F II) and 20 mg:700 mg (F III). Evaluation of liposomes, among others, the efficiency of adsorption, particle
size and morphology. The results showed the formulation of vitamin E in liposome using thin layer hydration
method obtained liposomal adsorption efficiency from F I to F III, respectively that is 41,3799%; 47.6162% and
52.7216%. It can be concluded that an increase in lecithin concentration may increase the efficiency of the
adsorption in which F III is the best formula for improving the efficiency of adsorption.
Peningkatan Keterampilan Naratif (Narrative Skills) dalam Berkomunikasi bagi Guru Madrasah Muhammadiyah Kota Bandar Lampung
Kemampuan naratif merupakan ketrampilan yang berkaitan dengan bahasa ekspresi (expressivelanguage), termasuk bagaimana menggambarkan atau menceritakan berbagai hal, dan termasukmenceritakan kembali (retelling) kisah atau cerita yang sudah didengarkan (storytelling).Dalam kegiatan pembelajaran di Madrasah Muhammadiyah Bandar Lampung, guru menjadikomunikator yang harus memiliki kemampuan ini. Pesan-pesan yang disampaikan baik berupapengetahuan, nilai-nilai, dan nasehat akan mampu diterima dan dipahami dengan baik oleh siswaapabila ditunjang ketrampilan ini. Metode yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian meliputiobservasi partisipatoris, dimana tim melakukan pengamatan terhadap kegiatan-kegiatan yangdilakukan oleh mitra, selanjutnya dilakukan diskusi dan wawancara dengan kepala madrasah danguru, dilanjutkan dengan pemaparan materi, feedback, diskusi, sharing pengalaman diikuti denganpraktek, dan terakhir membahas rencana tindak lanjut. Hasil dari kegiatan dapat diidentifikasibahwa menurut para peserta, penguatan guru melalui kegiatan ini dapat dilakukan secara periodikdan berkelanjutan, selain itu guru menjadi termotivasi untuk meningkatkan ketrampilan naratif,termasuk disini adalah peningkatan kemampuan berkomunikasi secara lebih efektif, tepatsasaran, dan berbobot, baik dengan mitra sejawat, orang tua siswa, dan siswa. Selanjutnya paraguru terdorong untuk meningkatkan kemampuannya melalui berbagai perangkat yang dapatmereka akses, misal dengan mengakses internet melalui berbagai media social dan media lainyang terjangkau oleh mereka.
Effect of Lecithin’s Concentration of Entrapment Vitamin E Acetate Liposomes Using Thin Layers Hydration Method
Tocopheryl acetate is not oxidized and can penetrate through the skin to the living cells, where about 5% is
converted to free tocopherol and provides beneficial antioxidant effects. Lecithin is one of the main components
of liposomes vesicles forming. The higher the phospholipid used, the more vesicles are formed, so that drug
use is also expected to be optimal. This study aims to determine the effect of increased lecithin concentration
on the efficiency of vitamin E application in liposomes made by thin layer hydration method. In this study
3 formulas were prepared using cholesterol and lecithin with a ratio of 20 mg each:100 mg (F I), 20 mg:400 mg
(F II) and 20 mg:700 mg (F III). Evaluation of liposomes, among others, the efficiency of adsorption, particle
size and morphology. The results showed the formulation of vitamin E in liposome using thin layer hydration
method obtained liposomal adsorption efficiency from F I to F III, respectively that is 41,3799%; 47.6162% and
52.7216%. It can be concluded that an increase in lecithin concentration may increase the efficiency of the
adsorption in which F III is the best formula for improving the efficiency of adsorption.
Effect of Lecithin’s Concentration of Entrapment Vitamin E Acetate Liposomes Using Thin Layers Hydration Method
Tocopheryl acetate is not oxidized and can penetrate through the skin to the living cells, where about 5% is
converted to free tocopherol and provides beneficial antioxidant effects. Lecithin is one of the main components
of liposomes vesicles forming. The higher the phospholipid used, the more vesicles are formed, so that drug
use is also expected to be optimal. This study aims to determine the effect of increased lecithin concentration
on the efficiency of vitamin E application in liposomes made by thin layer hydration method. In this study
3 formulas were prepared using cholesterol and lecithin with a ratio of 20 mg each:100 mg (F I), 20 mg:400 mg
(F II) and 20 mg:700 mg (F III). Evaluation of liposomes, among others, the efficiency of adsorption, particle
size and morphology. The results showed the formulation of vitamin E in liposome using thin layer hydration
method obtained liposomal adsorption efficiency from F I to F III, respectively that is 41,3799%; 47.6162% and
52.7216%. It can be concluded that an increase in lecithin concentration may increase the efficiency of the
adsorption in which F III is the best formula for improving the efficiency of adsorption.
SITUS BENTENG FORT ROTTERDAM SEBAGAI SUMBER BELAJAR DAN DESTINASI PARIWISATA KOTA MAKASAR : TINJAUAN FISIK ARSITEKTUR DAN KESEJARAHAN
Various relics of colonialism must be maintained as part of the nation’s experience in its
struggle for independence. The existence of buildings or historic objects in Indonesia is regulated in
the Law of the Republic of Indonesia Number 11 Year 2010 About Cultural Heritage. Article 1 of Law
Number 11 Year 2010 which is meant cultural heritage is cultural heritage in the form of Object of
Culture, Heritage Building, Cultural Structure, Cultural Heritage Site, and Heritage Area on land and
/ or in water that need to be preserved due to has an important value for history, science, education,
religion, and / or culture through the process of determination. One of the most well preserved cultural
heritages is Fort Rotterdam. Fort Rotterdam Fort is a small part of a country puzzle called Indonesia.
Glory and greatness of the Kingdom of Gowa, able to be presented through Fort Rotterdam as a
cultural heritage object that continues to be preserved by the local government. Although there are
many objects of cultural heritage in Makassar, Fort Rotterdam deserves to be an icon of Makassar
City, as well as will be able to attract the attention of local and international tourists. Fort Rotterdam
can also be a source of learning for learners. Learners should be more familiar with the history of the
nation so that the growing awareness of history and the stronger sense of nationalism of learners.
Abstrak: Berbagai peninggalan masa kolonialisme tersebut harus dipelihara sebagai bagian dari
pengalaman bangsa dalam perjuangannya merebut kemerdekaan. Keberadaan bangunan atau benda
bersejarah di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010
Tentang Cagar Budaya. Pasal 1 Undang undang Nomor 11 Tahun 2010 yang dimaksud cagar budaya
adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya,
Struktur agar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang
perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Salah satu cagar budaya yang
masih terpelihara dengan baik adalah Benteng Ford Rotterdam. Benteng Fort Rotterdam merupakan
bagian kecil dari sebuah puzzle negara yang bernama Indonesia. Kejayaan dan kebesaran Kerajaan
Gowa, mampu dihadirkan melalui Benteng Fort Rotterdam sebagai benda cagar budaya yang terus
dijaga kelestariannya oleh pemerintah daerah. Meskipun ada banyak benda cagar budaya di Kota
Makassar, Benteng Fort Rotterdam layak dijadikan ikon Kota Makassar, sekaligus akan mampu
menarik perhatian wisatawan lokal maupun internasional. Benteng Fort Rotterdam juga dapat
dijadikan sumber belajar peserta didik. Peserta didik harus lebih mengenal dengan sejarah bangsanya
supaya semakin tumbuh kesadaran sejarah dan semakin kuat rasa nasionalisme peserta didik.
SITUS BENTENG FORT ROTTERDAM SEBAGAI SUMBER BELAJAR DAN DESTINASI PARIWISATA KOTA MAKASAR : TINJAUAN FISIK ARSITEKTUR DAN KESEJARAHAN
Various relics of colonialism must be maintained as part of the nation’s experience in its
struggle for independence. The existence of buildings or historic objects in Indonesia is regulated in
the Law of the Republic of Indonesia Number 11 Year 2010 About Cultural Heritage. Article 1 of Law
Number 11 Year 2010 which is meant cultural heritage is cultural heritage in the form of Object of
Culture, Heritage Building, Cultural Structure, Cultural Heritage Site, and Heritage Area on land and
/ or in water that need to be preserved due to has an important value for history, science, education,
religion, and / or culture through the process of determination. One of the most well preserved cultural
heritages is Fort Rotterdam. Fort Rotterdam Fort is a small part of a country puzzle called Indonesia.
Glory and greatness of the Kingdom of Gowa, able to be presented through Fort Rotterdam as a
cultural heritage object that continues to be preserved by the local government. Although there are
many objects of cultural heritage in Makassar, Fort Rotterdam deserves to be an icon of Makassar
City, as well as will be able to attract the attention of local and international tourists. Fort Rotterdam
can also be a source of learning for learners. Learners should be more familiar with the history of the
nation so that the growing awareness of history and the stronger sense of nationalism of learners.
Abstrak: Berbagai peninggalan masa kolonialisme tersebut harus dipelihara sebagai bagian dari
pengalaman bangsa dalam perjuangannya merebut kemerdekaan. Keberadaan bangunan atau benda
bersejarah di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010
Tentang Cagar Budaya. Pasal 1 Undang undang Nomor 11 Tahun 2010 yang dimaksud cagar budaya
adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya,
Struktur agar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang
perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Salah satu cagar budaya yang
masih terpelihara dengan baik adalah Benteng Ford Rotterdam. Benteng Fort Rotterdam merupakan
bagian kecil dari sebuah puzzle negara yang bernama Indonesia. Kejayaan dan kebesaran Kerajaan
Gowa, mampu dihadirkan melalui Benteng Fort Rotterdam sebagai benda cagar budaya yang terus
dijaga kelestariannya oleh pemerintah daerah. Meskipun ada banyak benda cagar budaya di Kota
Makassar, Benteng Fort Rotterdam layak dijadikan ikon Kota Makassar, sekaligus akan mampu
menarik perhatian wisatawan lokal maupun internasional. Benteng Fort Rotterdam juga dapat
dijadikan sumber belajar peserta didik. Peserta didik harus lebih mengenal dengan sejarah bangsanya
supaya semakin tumbuh kesadaran sejarah dan semakin kuat rasa nasionalisme peserta didik.
SITUS BENTENG FORT ROTTERDAM SEBAGAI SUMBER BELAJAR DAN DESTINASI PARIWISATA KOTA MAKASAR : TINJAUAN FISIK ARSITEKTUR DAN KESEJARAHAN
Various relics of colonialism must be maintained as part of the nation’s experience in its
struggle for independence. The existence of buildings or historic objects in Indonesia is regulated in
the Law of the Republic of Indonesia Number 11 Year 2010 About Cultural Heritage. Article 1 of Law
Number 11 Year 2010 which is meant cultural heritage is cultural heritage in the form of Object of
Culture, Heritage Building, Cultural Structure, Cultural Heritage Site, and Heritage Area on land and
/ or in water that need to be preserved due to has an important value for history, science, education,
religion, and / or culture through the process of determination. One of the most well preserved cultural
heritages is Fort Rotterdam. Fort Rotterdam Fort is a small part of a country puzzle called Indonesia.
Glory and greatness of the Kingdom of Gowa, able to be presented through Fort Rotterdam as a
cultural heritage object that continues to be preserved by the local government. Although there are
many objects of cultural heritage in Makassar, Fort Rotterdam deserves to be an icon of Makassar
City, as well as will be able to attract the attention of local and international tourists. Fort Rotterdam
can also be a source of learning for learners. Learners should be more familiar with the history of the
nation so that the growing awareness of history and the stronger sense of nationalism of learners.
Abstrak: Berbagai peninggalan masa kolonialisme tersebut harus dipelihara sebagai bagian dari
pengalaman bangsa dalam perjuangannya merebut kemerdekaan. Keberadaan bangunan atau benda
bersejarah di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010
Tentang Cagar Budaya. Pasal 1 Undang undang Nomor 11 Tahun 2010 yang dimaksud cagar budaya
adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya,
Struktur agar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang
perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Salah satu cagar budaya yang
masih terpelihara dengan baik adalah Benteng Ford Rotterdam. Benteng Fort Rotterdam merupakan
bagian kecil dari sebuah puzzle negara yang bernama Indonesia. Kejayaan dan kebesaran Kerajaan
Gowa, mampu dihadirkan melalui Benteng Fort Rotterdam sebagai benda cagar budaya yang terus
dijaga kelestariannya oleh pemerintah daerah. Meskipun ada banyak benda cagar budaya di Kota
Makassar, Benteng Fort Rotterdam layak dijadikan ikon Kota Makassar, sekaligus akan mampu
menarik perhatian wisatawan lokal maupun internasional. Benteng Fort Rotterdam juga dapat
dijadikan sumber belajar peserta didik. Peserta didik harus lebih mengenal dengan sejarah bangsanya
supaya semakin tumbuh kesadaran sejarah dan semakin kuat rasa nasionalisme peserta didik.
The Anti-Inflammatory Activity of Nigella sativa Balm Sticks
Nigella sativa oil has been known to have potent anti-inflammatory activity. This research
aimed to determine the anti-inflammation activity of Nigella sativa oil in a simple balm stick by topical
application. The activity was checked using two methods: carrageenan-induced paw oedema and
granuloma pouch on rats. The results showed that balm sticks which contained 10% Nigella sativa
could overcome both acute and sub-acute inflammation showing by high oedema inhibition (60.64%),
low leucocytes count (43.55% lower than control) as well as a notable TNF-� concentration (50%
lower than control) on the inflamed area. In conclusion, topical application of a Nigella sativa balm
stick was effective for both acute and sub-acute forms of inflammation.