Sejarah berdirinya suatu organisasi tidak dapat dipisahkan dari gagasan dan pikiran pendirinya Sebab orang-orang yang kemudian bergabung menjadi anggota secara sadar telah menyepakati dasar dan tujuan organisasi tersebut yang pada hakikatnya merupakan perwujudan dari gagasan para pendirinya PSII tidak mungkin dipisahkan dengan HOS Cokroaminoto NU tidak mungkin dipisahkan dengan Hasyim Asyaari Demikian juga Muhammadiyah tidak mungkin dipisahkan dari Ahmad Dahlan Dengan demikian gagasan dan pikiran yang muncul kemudian tidak mungkin dipisahkan dari pikiran dan gagasan awal (para) pendirinya, (Moh Djasman Al-Kindi; sala seorang pencetus berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan menjadi ketua umum pertama DPP IMM)
Gagasan Ahmad Dahlan yang terpilih adalah bagaimana dapatnya mengamalkan ayat-ayat al-Quran Dengan demikian Muhammadiyah sebagai organisasi senantiasa diikhtiarkan untuk menjadi tempat untuk mengkaji Al-Qur`an sekaligus menjadi tempat bermusyawarah untuk mengamalkannya Oleh karenanya Muhammadiyah tidak mungkin terpisah dari tiga prinsip yakni ; Pengkajian Al-Quran, Musyawarah dan amal, yang saat ini hampir mati ; antara ada dan tiada.
Asal usul gerakan pendidikan Muhammadiyah di Indonesia.
Sejarah penubuhan suatu organisasi tidak dapat dipisahkan daripada gagasan dan pemikiran pengasasnya. Orangorang
yang bergabung menjadi ahli secara sedar telah bersetuju dengan dasar dan matlamat organisasi tersebut
yang pada hakikatnya adalah perwujudan daripada gagasan para pengasasnya. Demikian halnya dengan
Muhammadiyah, di Indonesia tidak mungkin dipisah daripada Ahmad Dahlan sebagai pengasasnya. Lebih asas
lagi, kelahirannya sebagai gerakan Islam melalui sistem organisasi juga memperolehi rujukan teologi, sebagaimana
tercermin dalam pemaknaan atapun tafsiran surah al-Quran Cali Imran ayat 104. Artikel ini menggunakan metodologi
kualitatif bersifat deskriptif analitikal, iaitu tulisan yang berusaha menggambarkan data yang sesuai keadaannya.
Dalam memformat gerakan Muhammadiyah dalam konteks kelahirannya bukan hanya semata-mata teknikal tetapi
juga didasari pada rujukan keagamaan yang selama ini melekat dalam alam fikiran para ulama mengenai Kaedah
“mâ lâ yatimm al-wâjib illâ bihi fa huwâ wâjib”, ertinya sekiranya suatu urusan tidak akan sempurna manakala
tanpa alat, maka alat itu menjadi wajib adanya. Hal inilah yang membuat gerakan Muhammadiyah, terutama di
bidang lembaga pendidikan semakin laju sejak didirikannya pada tahun 1912 hingga tahun 2010 telah berjumlah
16,942 buah.
TAPAK PERBEZAAN ASAL USUL GERAKAN MUHAMMADIYAH DAN NAHDLATUL ULAMA (NU) DI INDONESIA
Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama adalah dua organisasi sosial keagamaan yang dikenali
oleh seantero masyarakat. Hal ini menyebabkan ia mendapat perhatian daripada para
pengkaji untuk diselongkar rahsia-rahsia ilmiah, yang melibatkan para ilmuan tempatan
mahupun antarabangsa. Selain itu, ia juga disebabkan oleh struktur kepimpinan yang tersusun
rapi dan kukuh, bermula dari peringkat bawahan sehingga ke peringkat pusat (keseluruhan).
Gerakan Muhammadiyah mula ditubuhkan pada tahun 1912 oleh Kiyai Ahmad Dahlan
kerana keadaan masyarakat Islam Indonesia pada ketika itu yang mengalami kemunduran dan
kebekuan dalam berfikir terutamanya tentang kepercayaan masyarakat yang masih kuat
berpegang kepada perkara-perkara tahayul, bidaah, dan khurafat. Manakala Nahdlatul Ulama
pula ditubuhkan pada tahun 1926 oleh persatuan Kiyai-Kiyai di Jawa Timur, melalui pelbagai
konflik, antaranya berlakunya perbezaan pendapat antara KH. Wahab Chasbullah dengan KH.
Mas Mansyur dalam persatuan Taswir al-Afkar atau Nahdlatul Wathan (1916), serta masalah
Kongres al-Islam Hindia Timur (1926) yang diadakan oleh Raja Ibn Saud di Mekah. Justeru
itu, ia menjadi sangat menarik untuk dikaji terutamanya berkaitan dengan asal usul wujudnya
gerakan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di Indonesia serta perbezaan sejarah antara
kedua-dua organisasi tersebut. Walaupun organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama
hanyalah organisasi bersifat gerakan sosial keagamaan, namun terdapat perbezaan dalam
proses penubuhan gerakannya, yang melibatkan sejarah asal usul gerakan dan penubuhan,
karya penulisan dan pekerjaan para pengasasnya, langkah-langkah monumental, faktor-faktor
yang menyokong serta institusi pendidikannya. Perbezaan-perbezaan tersebut turut
mempengaruhi dinamika gerakan pendidikan masing-masing
Self-Conception of The Vagrants in Jakarta
This research aims to identify the self construction and communicating acts amongst the homeless while they are doing their daily activities as a vagrant in downtown Jakarta. The method being used for this research is a qualitative method with phenomenologist paradigm which aims to understand human behaviors from an experimental perspective. Result shows that vagrants, especially those who has the same profession, tend to share the area of work in order to avoid conflicts among them. Description from the subject in establishing communication with other vagrants are done by sharing area of expertise from himself and other vagrants. Results also showed that almost all the subjects tend to close their “darker” side from others who don’t know that they are vagrants by impression management. These people came into existence not only because of a poor culture which shows nomadic type of living habit, but it’s also because of the structure and vast majority which sees them with a negative stigma for every type of occupation they choose including a forced action because they were left without any choices other being a vagrant.
MENULIS ARTIKEL UNTUK JURNAL ILMIAH
Lembaga pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab dalam mengcmhangkan Tridharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Pengembangan tersebut dapat ditumbuhkan apabila didukung oleh suasana budaya akademik (academic culture) yang kuat di lembaga tersebut. Budaya akademik adalah suatu budaya yang tumbuh di perguruan tinggi yang mencerminkan sebuah suasana ilmiah dan ditandai oleh sejumlah aktivitas ilmiah melalui segenap kegiatannya, seperli aktivitas perkuliahan, seminar, kegiatan penelitian yang semua kegiatan tersebut disebarluaskan melalui publikasi-publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal-jurnal ilmiah.
The Relationship between Authentic Materials and Cooperative Learning Strategy towards EFL Students’ Reading Comprehension
EFL (English as a Foreign Language) students of vocational high schools are requested to have skillful reading strategies to comprehend specific texts in English. To have a good comprehension, they utilize not only their strategies but also interesting and suitable texts. Therefore, this current study investigated the correlation between students’ perception of the authentic materials and cooperative learning strategy towards students’ reading comprehension. The data of the reading comprehension tests and the students’ perception were analyzed using the multiple regression. The result revealed that (1) there was positive correlation between students’ perception of the authentic materials and students reading comprehension, (2) there was significant positive effect of cooperative learning strategy towards reading comprehension, and (3) there was significant positive effect of reading materials towards cooperative learning strategy. These findings suggested that the choice of authentic materials could motivate students to comprehend ESP texts. Besides this, by doing cooperative learning strategy, the scaffolding could happen so that they could share their comprehension. In spite of its limitation, this study could have certain pedagogical implications to reading classroom activities.
PEMBELAJARAN LINGUISTIK BERBASIS PENDEKATAN HOLISTIK
Pendekatan pembelajaran holistic didasarkan pada filsafat pendidikan yang mengasumsikan bahwa peserta didik akan mendapatkan hasil pembelajaran yang bermakna untuk diri dan hidupnya bila proses pembelajaran dilakukan melalui hubungan antara dirinyadengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual (agama).
DI BALIK WAJAH “ANGKER” PAK ANTON
Prof. Anton Moeliono itu sosok dosen yang idealis, disiplin, perfeksionis dan “angker” inilah yang sering dikesankan oleh hamper semua mahasiswa yang pernah menjadi didikan beliau, tidak terkecuali penulis sendiri yang pernah menjadi mahasiswanya di program S-2 LTBI dan S-3 LTBI Unika Atma Jaya Jakarta. Kenpa Pak Anton itu idealis, disiplin, dan perfeksionis? Tidak perlu dijabarkan ditulisan pendek ini, karena hamper seluruh orang mengenal beliau tahu jawabannya bahkan diyakini lebih tahu dari penulis. Yang perlu disampaikan di sini adalah sisi “angker” –nya yang ternyata di balik itu adalah wujud sangat perhatian beliau terhadap mahasiswanya
CONTROLLING AGGRESSIVE INSTINCT FOR PEACE
At present, the escalation of violence has been intense nationally and globally due to variety of reasons such as religions, human rights, culture, and politics. The violence has threatened the peace, harmony, and plurality in the community. One of the main sources of the violence is the uncontrolled aggressive instinct of the human being. In line with this issue, this article attempts to reintroduce religious, cultural, and social values that the people can use to control their provocative aggressive instinct and transform it into good deeds for the sake of the peace and harmony among the pluralistic society.
VOCABULARY STRATEGIES
Before presenting the notion of vocabulary strategies, it is necessary to know what language learning strategies mean. The term of language learning strategies has been associated with the four basic skills such as, listening, speaking, reading, and writing.lt also deals with other skill areas as well. For example, there are strategies associated with vocabulary and translation. But what are actually language learning strategies?